Rabu, 04 Mei 2011
Apa itu Etika KristenApa itu etika Kristen? ________________________________________ Pertanyaan: Apa itu etika Kristen? Jawaban: “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan. Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka)” (Kolose 3:1-6). Walaupun Alkitab bukan sekedar daftar “perintah” dan “larangan”, namun Alkitab memberi kita instruksi terinci mengenai seharusnya kita hidup sebagai orang Kristen. Alkitab adalah satu-satunya kitab yang kita perlukan untuk mengetahui bagaimana menghidupi kehidupan Kristen. Namun demikian Alkitab tidak secara eksplisit menguraikan segala situasi yang kita akan hadapi dalam kehidupan kita. Kalau begitu bagaimana Alkitab cukup? Di situlah giliran Etika Kristen. Sains mendefinisikan etika sebagai, “serangkaian prinsip moral, kajian mengenai moralitas.” Karena itu Etika Kristen adalah prinsip-prinsip yang disarikan dari iman Kristen yang menjadi dasar tindakan kita. Walaupun Firman Tuhan mungkin tidak menyinggung dan membicarakan seluruh situasi yang mungkin kita hadapi dalam kehidupan kita, prinsip-prinsipnya memberi kita standar yang harus kita ikuti dalam situasi-situasi di mana tidak ada instruksi yang eksplisit. Misalnya, Alkitab tidak berbicara secara eksplisit mengenai penggunaan obat-obat terlarang, namun berdasarkan prinsip-prinsip yang kita pelajari melalui Alkitab kita tahu bahwa itu salah. Salah satunya adalah Alkitab mengatakan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus dan kita harus memuliakan Allah dengannya (1 Korintus 6:19-20). Mengenali apa yang diakibatkan oleh obat-obat terlarang pada tubuh kita – kerusakan yang diakibatkan pada berbagai organ tubuh – kita tahu bahwa menggunakan obat-obat terlarang adalah merusak bait Roh Kudus. Dan jelas hal itu tidak memuliakan Allah. Alkitab juga memberi tahu kita bahwa kita harus mengikuti pemerintah yang Allah telah tempatkan (Roma 13:1). Mengingat natur obat-obat terlarang yang ilegal, penggunaannya berarti kita tidak menaati pemerintah namun melawan mereka. Apakah ini berarti kalau obat-obat terlarang itu dilegalisasi lalu berarti boleh? Tetap tidak karena melanggar prinsip pertama. Dengan menggunakan prinsip-prinisp yang kita temukan dalam Kitab Suci orang-orang Kristen dapat menentukan jalan yang harus ditempuh dalam situasi apapun. Dalam kasus-kasus tertentu ini merupakan hal yang sederhana, seperti peraturan hidup yang terdapat dalam Kolose 3. Dalam kasus-kasus lain kita perlu menggali lebih dalam. Cara yang terbaik untuk melakukan hal ini adalah dengan mendoakan Firman Tuhan. Roh Kudus mendiami setiap orang percaya dan bagian dari peranan-Nya adalah mengajar bagaimana seharusnya kita hidup: “Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yohanes 14:26). “Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu—dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta—dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia” (1 Yohanes 2:27). Jadi ketika kita mendoakan Kitab Suci, Roh Kudus akan menuntun kita dan mengajar kita. Dia akan menunjukkan kita prinsip yang kita perlu pegang dalam situasi tertentu. Walaupun Firman Allah tidak membicarakan segala situasi yang kita hadapi dalam hidup kita, Firman Allah cukup untuk kita menghidupi kehidupan Kristen. Untuk kebanyakan hal kita tinggal melihat apa yang dikatakan Alkitab dan mengikuti arah yang diberikan. Dalam kasus-kasus di mana Alkitab tidak memberi petunjuk yang eksplisit untuk situasi tertentu, kita perlu melihat prinsip yang melatarbelakanginya. Sekali lagi dalam kasus-kasus tertentu itu merupakan hal yang mudah. Kebanyakan dari prinsip yang orang-orang Kristen ikuti adalah cukup untuk hampir semua situasi. Dalam kasus yang langka di mana tidak ada petunjuk Kitab Suci yang eksplisit maupun prinsip yang jelas, kita perlu bersandar kepada Allah. Kita mesti mendoakan Firman-Nya, dan membuka diri kita kepada Roh-Nya. Roh Kudus akan mengajar kita dan menuntun kita dalam Alkitab untuk mendapatkan prinsip yang kita perlu pegang sehingga kita dapat berjalan dan hidup sebagaimana layaknya orang Kristen. Sharing Buku : Etika Kristen Pilihan dan Isu Norman L. Geisler Di dalam kehidupan kita banyak menjumpai persoalan-persoalan etika. Kalau persoalan itu jelas benar atau salah, kita dengan mudah dapat membuat keputusan. Tetapi kalau keputusan menyangkut banyak hal yang rumit dan semua pilihan mempunyai resiko etis, maka kita pasti kebingungan bagaimana mengambil keputusan. Contoh klasik adalah: bagaimana dengan berbohong untuk kebaikan; Berbohong untuk menyelamatkan nyawa banyak orang; Aborsi untuk menyelamatkan nyawa ibu; Membunuh pada saat perang? Dengan membaca buku ini kita akan banyak dibantu mengambil keputusan-keputusan etis yang sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab. Bab 1 Pilihan-pilihan yang Ada Bab 1 membahas tentang pilihan-pilihan yang ada. Di bab ini dijelaskan tentang banyak definisi umum mengenai etika: 1. Keadilan adalah demi kepentingan kelompok yang lebih kuat. 2. Moral adalah adat istiadat, apa yang secara moral benar adalah apa yang dikatakan masyarakat sebagai yang benar. 3. Manusia adalah tolak ukur segala sesuatu. 4. Umat manusia merupakan dasar kebenaran. 5. Kebenaran adalah keseimbangan. 6. Kebenaran adalah apa yang membawa kenikmatan. 7. Kebenaran adalah kebaikan yang terbesar bagi orang banyak. 8. Kebenaran adalah apa yang dikehendaki untuk kebaikannya sendiri. 9. Kebenaran tidak dapat ditentukan. 10. Kebaikan adalah apa yang dikehendaki Allah. Pandangan Kristen mengenai etika: 1. Etika Kristen berdasarkan kehendak Allah. 2. Etika Kristen bersifat mutlak. 3. Etika Kristen berdasarkan wahyu Allah. 4. Etika Kristen bersifat menentukan. 5. Etika Kristen itu Deontologis. Pada umumnya, sistem-sistem etika masuk ke dalam 2 kategori: non-absolutisme dan absolutisme. Dalam kategori non-absolutisme, ada antinomianisme (bab 2), situasionisme (bab 3), dan generalisme (bab 4). Untuk kategori absolutisme, ada absolutisme total (bab 5), absolutisme konflik/bertentangan (bab 6), dan absolutisme bertingkat (bab 7). Bab 2 Antiniomianisme Antinomianisme berarti tidak ada hukum moral yang mengikat, segala sesuatu itu bersifat relatif. Di sini dijelaskan antonimianisme dalam dunia kuno, abad pertengahan, dunia modern dan sekarang. Bab ini menjelaskan keyakinan, kontribusi positif dan kritik terhadap antinomianisme. Bab 3 Situasionisme Situasionisme mengklaim berpihak pada satu norma yang tidak bisa dipatahkan. Norma itu adalah hukum kasih. Posisinya bukan relativisme tanpa hukum yang berkata tidak ada hukum apapun, demikian pula bukan absolutisme total yang mempunyai hukum untuk segala sesuatu. Bab ini menjelaskan mengenai situasionisme, berikut kekurangan dan manfaatnya. Bab 4 Generalisme Penganut generalisme percaya pada nilai dari hukum-hukum etis untuk membantu individu-individu menentukan tindakan yang mana yang mungkin membawa kebaikan terbesar untuk jumlah terbanyak dari manusia. Mereka bukanlah orang-orang absolutis, karena mereka biasanya menolak bahwa secara universal ada norma-norma etis yang mengikat, yang mewakili nilai-nilai intrinsik. Penganut generalisme banyak dari kaum utilitarian. Bab ini menjelaskan mengenai utilitarian kuantitatif, utilitarian kualitatif, peraturan-peraturan umum dan ketaatan universal, menyatakan tidak ada peraturan-peraturan umum yang harus dilanggar. Disajikan pula evaluasi terhadap generalisme. Bab 5 Absolutisme Total Alasan dasar dari absolutisme total adalah bahwa seluruh konflik moral itu hanya kelihatannya saja konflik, tetapi sebenarnya tidak konflik. Dosa selalu dapat dihindarkan. Ada hukum-hukum moral yang mutlak, tidak ada pengecualian-pengecualian. Bab ini menjelaskan absolutisme total Santo Augustine, absolutisme total Kant, absolutisme total John Murray, providensia Allah. Kemudian dijelaskan akan aspek-aspek positif maupun negatif dari absolutisme total. Bab 6 Absolutisme Konflik Asumsi pokok dari sikap etis absolutisme konflik adalah bahwa kita hidup di dalam dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa, dan dalam dunia seperti itu konflik-konflik moral yang nyata memang terjadi. Tetapi dasar pikiran yang menyertai adalah bahwa ketika dua kewajiban bertentangan (menjadi konflik), secara moral manusia bertanggung jawab terhadap keduanya. Dalam kasus-kasus seperti itu, seseorang harus benar-benar melakukan yang kurang jahat, mengakui dosanya, dan memohon pengampunan Allah. Bab ini menjelaskan latar belakang sejarah, prinsip dasar, kontribusi positif, dan kritik dari absolutisme konflik. Bab 7 Absolutisme Bertingkat Absolutisme bertingkat melihat ada suatu hirarki dari kebaikan, bahwa kewajiban-kewajiban moral kadang bertentangan, dan bahwa kita tidak bersalah karena menaati kewajiban yang lebih tinggi. Bab ini menjelaskan unsur-unsur dasar, uraian, keberatan, dan nilai dari absolutisme bertingkat. Bab 8 Aborsi Sekarang kita beralih dari pilihan-pilihan etis kepada masalah-masalah etis. Dari semua masalah moral, masalah yang paling mendesak adalah masalah-masalah yang melibatkan kehidupan dan kematian. Dan dari masalah tentang kehidupan dan kematian tersebut, satu yang berhubungan dengan kehidupan adalah masalah aborsi. Kita akan menyelidiki kapan, sekiranya mungkin, kita dibenarkan mengakhiri satu kehidupan yang ada dalam kandungan. Ada 3 sikap dasar mengenai aborsi yang berpusat pada status janin: a. Mereka yang percaya bahwa janin hanyalah bagian tubuh manusia, lebih cenderung memperbolehkan aborsi sesuai permintaan. b. Mereka yang berpendapat bahwa janin itu benar-benar manusia, menentang aborsi. c. Mereka yang berpendapat bahwa janin itu berpotensi menjadi manusia, cenderung mendukung aborsi dalam situasi tertentu saja. Bab ini menjelaskan argumentasi Alkitab dan evaluasi mengenai 3 sikap dasar di atas. Bab 9 Euthanasia Apa yang harus kita lakukan terhadap seseorang yang tidak memiliki harapan, dimana ia terjebak di dalam sebuah pesawat terbang yang terbakar, yang memohon agar dia ditembak? Atau ada orang mempunyai penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan dia dipertahankan untuk tetap hidup hanya dengan mesin. Jika sambungan pipanya dicabut dia hanya seperti tumbuh-tumbuhan. Situasi seperti ini dan banyak situasi yang serupa memfokuskan masalah etis yang tidak dapat dipisahkan dengan euthanasia. Kapan, apabila memang akan dilakukan, "membunuh berdasarkan belas kasihan" dibenarkan secara moral? Bab ini menjelaskan euthanasia aktif (mencabut kehidupan untuk menghindari penderitaan), berikut evaluasinya. Disusul kemudian dengan euthanasia pasif yang tidak wajar dan wajar, kemudian evaluasinya. Bab 10 Isu-isu Biomedis Teknologi telah menciptakan masalah-masalah etis yang baru. Inseminasi buatan, bayi tabung, ibu yang dipinjam kandungan dan tubuhnya, transplantasi organ, pengambilan organ, penyambungan gen dan kloning, semuanya merupakan realitas-realitas medis. Tidak ada lagi pertanyaan apakah hal-hal tersebut dapat dilakukan, hanya ada pertanyaan, yaitu: Apakah hal-hal itu harus dilakukan? Bab ini menjelaskan perspektif humanis sekuler dan evaluasinya, dilanjutkan dengan penjelasan perspektif Kristen mengenai etika-etika biomedis dan evaluasinya. Bab 11 Hukuman Mati Ada 3 pandangan dasar mengenai hukuman mati: a. Rekonstruksionisme, yang menuntut hukuman mati untuk semua kejahatan-kejahatan serius. b. Rehabilitasionisme, yang tidak akan mengijinkan hukuman mati untuk kejahatan apapun juga. c. Retribusionisme, yang menganjurkan kematian untuk beberapa kejahatan-kejahatan besar. Bab ini membahas argumentasi Alkitab dan evaluasi terhadap ketiga pandangan ini. Bab 12 Perang Bagaimana seharusnya sikap orang Kristen terhadap perang? Apakah dibenarkan mengambil nyawa orang lain atas perintah pemerintah? Apakah ada dasar alkitabiah bila ikut serta dalam peperangan? Secara mendasar, pandangan-pandangan yang berkaitan dengan mengambil nyawa orang dalam perang ada dalam 3 kategori: a. Aktivisme, yang berpendapat bahwa orang Kristen harus berpartisipasi dalam perang apapun juga yang dihadapi oleh pemerintahnya, karena pemerintahan dilantik oleh Allah. b. Pasifisme, yang berpendapat bahwa orang-orang Kristen tidak boleh berpartisipasi dalam perang sampai pada poin membunuh orang lain, karena Allah telah memerintahkan agar manusia tidak boleh mengambil nyawa orang lain. c. Selektivisme, yang memperdebatkan bahwa orang-orang Kristen harus berpartisipasi dalam beberapa perang tertentu (maksudnya benar-benar perang). Bab ini membahas argumentasi Alkitab dan evaluasi mengenai ketiga kategori di atas. Bab 13 Ketidaktaatan terhadap Pemerintah Apakah orang Kristen boleh, pada situasi tertentu, tidak mentaati pemerintah? Jika ya, kapan? Jika tidak, mengapa tidak? Apakah benar memberontak terhadap pemerintahan yang tidak adil atau membunuh seorang pemimpin yang kejam? Ada 3 posisi dasar mengenai ketidaktaatan terhadap pemerintah: a. Anarkis, berpendapat selalu benar untuk tidak taat terhadap pemerintah. b. Radikal patriotisme, tidak pernah benar untuk tidak taat terhadap pemerintah. c. Submisionisme alkitabiah, kadangkala benar untuk tidak taat terhadap pemerintah. Karena pandangan yang pertama (a) meniadakan pembenaran Kristen manapun juga, perhatian kita akan terfokus pada dua pandangan terakhir. Selain dukungan Alkitab dan evaluasi mengenai 2 pandangan terakhir, bab ini juga menjelaskan mengenai revolusi (pemberontakan terakhir melawan pemerintah), bagaimana menghadapi penindasan, dan satu evaluasi tentang pandangan yang menolak pemberontakan. Bab 14 Homoseksualitas Sementara sebagian besar orang Kristen sangat menentang praktek-praktek homoseksual, beberapa orang membela mereka dengan argumentasi-argumentasi alkitabiah maupun yang bukan alkitabiah. Kedua macam dukungan tersebut akan diselidiki dan dievaluasi di sini. Bab 15 Pernikahan dan Perceraian Pernikahan adalah unit masyarakat yang paling dasar dan berpengaruh di dunia. Adalah sulit untuk menaksir terlalu tinggi pentingnya pernikahan, tetapi setiap tahun di Amerika Serikat perceraian terjadi kira-kira separuh dari pernikahan yang ada. Mengingat hal ini, adalah perlu bagi kita untuk mempertimbangkan dasar alkitabiah bagi pernikahan dan perceraian. Bab ini membahas pandangan Alkitab mengenai pernikahan, beberapa pandangan Kristen mengenai perceraian, dan evaluasi dari pandangan-pandangan Kristen mengenai perceraian. Bab 16 Ekologi Setiap tahun hutan tropis seluas Skotlandia dihancurkan di planet yang bernama Bumi. Mengacu pada penebangan hutan, sebanyak satu juta spesies tumbuhan dan hewan dapat punah di akhir abad ini. Limbah-limbah kimia telah masuk ke dalam rantai makanan dan diketemukan di dalam lemak tubuh manusia. Mengingat situasi ekologi yang membahayakan ini, bagaimanakah tanggung jawab etis orang Kristen terhadap lingkungan fisik di mana kita hidup? Apakah implikasi-implikasi moral dari polusi yang menghancurkan flora dan fauna? Adakah kebutuhan etis untuk menjaga air dan udara supaya tetap murni? Di antara 2 ekstrim, yaitu paham materialis yang menghabiskan alam dan paham panteis yang memuja-muja alam, orang Kristen mempercayai penghargaan dan penggunaan sumber alam yang tepat. Bab ini membahas pandangan materialistik mengenai lingkungan, pandangan panteistik mengenai lingkungan, dan pandangan Kristen mengenai lingkungan. Judul asli: Christian Ethics: Options and Issues Judul terjemahan: Etika Kristen: Pilihan dan Isu Tebal buku: 409 halaman Harga: Sekitar Rp50.000,- Penerbit (Bahasa Indonesia): Departemen Literatur SAAT Jalan Arief Margono 18 Malang 65117 Telp. (0341) 325056, 366025 ________________________________________ Norman L. Geisler adalah seorang profesor dalam bidang apologetika di Dallas Theological Seminary dan sekarang menjabat sebagai dekan dari The Liberty Center for Christian Scholarship di Liberty University. Beliau telah menulis lebih dari 25 buku, termasuk Introduction to Philosphy, Philosophy of Religion, Christian Aplogetics dan Miracles dan Modern Thought. Beliau juga memperoleh gelar Ph.D dari Loyola University. Buku Tamu Beritahu Teman PENGAJARAN ROHANI UMUM KESAKSIAN MUSIK LAGU SHARING BUKU Sharing Buku : Visioneering Sharing Buku : Bukan Yesus Yang Saya Kenal Sharing Buku : Kitab Suci Yang Dibaca Yesus Sharing Buku : Ready To Grow - Langkah-langkah Praktis Untuk Makin Mengenal Allah Sharing Buku : Dirancang Bagi Kemuliaan Sharing Buku : Etika Kristen Sharing Buku : Pembuktian Atas Kebenaran Kristus Sharing Buku : Mengenal Allah, Sebuah Perjalanan Menelusuri Alkitab Resensi Buku: Visi Yang Membaharui PI SEKOLAH MINGGU PERSEKUTUAN NEWSLETTER Dapatkan berita terbaru dari kami. Masukkan alamat email anda: SEARCH
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar